Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Cologne, Jerman : Aku, Batu, dan Waktu yang Berdarah

Aku melangkah di negeri yang mengunyah sejarah,  Jerman, tanah di mana doa dan dosa bersetubuh dalam sunyi.  Cologne menyambutku dengan gereja yang menatap tajam,  Menaranya mencakar langit, seakan ingin menggugat Tuhan.  Batu-batu ini pernah basah oleh air mata,  Oleh perang, oleh cinta yang remuk di altar.  Aku berjalan di atas jejak ribuan kaki,  Mereka yang pernah berharap, berkhianat,  Mereka yang jatuh cinta pada negeri yang mencintai penderitaan.  Langit kelabu bukan sekadar awan,  Ia adalah bayang-bayang luka yang tak pernah sembuh.  Jerman adalah simfoni yang dimainkan perang dan filsuf,  Bach yang menangis di gereja-gereja sekarat,  Nietzsche yang tertawa di atas iman yang retak.  Aku di sini, mantel merahku berkibar seperti bendera perang,  Di antara turis yang lupa bahwa tanah ini pernah menangis darah.  Aku bukan pendosa, bukan nabi, bukan pujangga,  Hanya seorang pejalan dengan jiwa yang h...

Postingan Terbaru

Pagi di Paris

Paris, Gaun Hijau, dan Kegilaan yang Tersirat

Musim Dingin di Eropa

Belgia, Di Antara Cahaya dan Bayangan

Tersesat di Tol Paris: Sebuah Simfoni Kegilaan

Kekacauan yang Indah

Day Two, In The Morning

Toxic Relationship

Perempuan Tangguh

I've Been Looking For You In The Other Person

A REASON TO MARRY

Patah Hati

Human Attachment Theory

Jika Aku Mati

Ramadhanku Mungkin Yang Terakhir

A Fairytale

Day One, In The Morning

You're My Constant "What If"

Stay Away A While From Social Media

COVID-19 SURVIVOR

Quarter Life Crisis

SRIKANDI DI TENGAH PANDEMI

Self Harm___ . A Poet

WANITA

A CHAOS

OH MY DEAR,

WANITA

A LETTER FROM A WOMAN TO ALL MEN

WHEN I LOVE

ENIGMA